Yakinlah…

Ada waktu untuk belajar…
Ada waktu untuk menambah pengalaman…
Ada waktu untuk investasi aset…
Ada waktu untuk fokus keluarga…
Ada waktu untuk ibadah…

“insyaAllah semuanya bisa,Prioritaskan dan Konsisten”

Leave a comment »

Buat seseorang yang saya sayangi

Comments (3) »

Buat seseorang yg saya sayangi

Leave a comment »

Alhamdulillah

Ku bersyukur pada Mu ya Allah…
Ketika Aku minta cinta dan Kasih Sayang, Allah memberi saya seorang pasangan yang selalu menyayangi dan mengasihiku…
Amiiin…

Comments (1) »

Tugas Farter GGK

PENDAHULUAN

A. Anatomi dan Fisiologi Ginjal
Ginjal merupakan fungsi yang vital sebagai pengatur volume dan komposisi kimia darah ( dan linkunagn dalam tubuh) dengan mengekskresikan zat terlarut dan air secara selektif (Price dan Wilson, 2006).
Ren (ginjal) berjumlah sepasang terletak di bagian dorsal abdomen, di kanan dan kiri columna vertebralis, ditutupi peritoneum dan dikelilingi oleh jaringan pengikat dan lemak. Bentuk ren menyerupai kacang dengan sisi cekungnya menghadap ke medial. Pada sisi ini terdapat hilus renalis tempat masuk atau keluarnya pembuluh darah, sistem limfatik, sistem saraf, dan ureter. Besar dan berat ren sangat bervariasi, tergantung jenis kelamin, umur serta ada tidaknya ginjal pada sisi yang lain (Budianto, 2005).

Gambar 1. Anatomi Ginjal
Unit kerja fungsional ginjal disebut sebagai nefron. Dalam setiap ginjal terdapat sekitar 1 juta nefron yang pada dasarnya mempunyai truktur dan fungsi sama. Setiap nefron terdiri dari kapsula Bowman yang mengitari rumbai kapiler glomerulus, tubulus kontortus proksimal,lengkung henle, dan tubulus kontortus distal, yang mengosongkan diri ke duktus pengumpul (Price dan Wilson, 2006).

Gambar 2. Nefron
Fungsi utama ginjal yaitu :
a. Fungsi Ekskresi
- Mempertahankan osmolalitas plasma sekitar 285 mOsmol dengan mengubah-ubah ekskresi air.
- Mempertahankan volume ECF dan teanan darah dengan engubah-ubah ekskresi Na+.
- Mempertahankan konsentrasi plasma masing-masing elektrolit individu dalam rentang normal.
- Mempertahankan pH plasma sekitar 7,4 dengan mengeluarkan kelebihan H+ dan membentuk kembali HCO3-
- Mengekskresi produk akhir nitrogendari metabolism protein (terutama urea, asam urat dan kreatinin)
- Bekerja sebagai jalur ekskretori untuk sebagian besar obat
b. Fungsi Non-ekskresi
- Menyintesis dan mengaktifkan hormon
• Renin : penting dalam pengaturan tekanan darah
• Eritropoetin : merangsang produksi se darah merah oleh sumsum tulang
• 1,25-dihidroksivitamin D3 : hidroksilasi akhir vitamin D3 menjadi bentuk yang paling kuat
• Prostaglandin : sebagian besar adalah vasodilator, bekerja secra local, dan melindungi dari keruakan iskemik ginjal
- Degradasi hormone polipeptida
Insulin, glukagon, parathormon, prolaktin, hormone pertumbuhan , ADH, dan hormone gastrointestinal (gatrin, polipeptida intestinal vasoktif)
(Price dan Wilson, 2006)
B. Gagal Ginjal Kronik
Gagal Ginjal Kronik (GGK) atau penyakit ginjal tahap akhir adalah gangguan fungsi ginjal yang menahun bersifat progresif dan irreversibel. Dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah).
Penyakit ginjal kronik adalah kerusakan ginjal yang terjadi selama lebih dari 3 bulan, berdasarkan kelainan patalogis atau petanda kerusakan ginjal seperti proteinuria. Jika tidak ada tanda kerusakan ginjal, diagnosis penyakit ginjal kronik ditegakkan jika nilai laju filtrasi glomerulus kurang dari 60ml/menit/1,73m2 , seperti yang terlihat pada tabel berikut ini :

Batasan penyakit ginjal kronik

1. kerusakan ginjal > 3 bulan, yaitu kelainan struktur atau fungsi ginjal, dengan atau tanpa penurunan laju filtrasi glomerulus berdasarkan:
- kelainan patalogik
- petanda kerusakan ginjal seperti proteinuria atau kelainan pada pemeriksaan pencitraan

2. laju filtrasi glomerulus 3 bulan dengan atau tanpa kerusakan ginjal

Pada pasien dengan penyakit ginjal kronik, klasifikasi stadium ditentukan oleh nilai laju filtrasi glomerulus, yaitu stadium yang lebih tinggi menunjukkan nilai laju filtrasi glomerulus yang lebih rendah, seperti terlihat pada tabel klasifikasi tersebut membagi penyakit ginjal kronik dalam lima stadium.

Tabel. Laju Filtrasi Glomerulus dan Stadium Penyakit Ginjal Kronik
Stadium Fungsi ginjal Laju filtrasi glomerulus
(ml/menit/1,73m2 )

Risiko meningkat Normal > 90 (ada faktor risiko)

Stadium 1 Normal/meningkat > 90 (ada kerusakan ginjal,
proteinuria)
Stadium 2 Penurunan ringan 60-89

Stadium 3 Penurunan sedang 30-59

Stadium 4 Penurunan berat 15-29

Stadium 5 Gagal ginjal 300 mg/24jam),GFR menurun
• Stadium 5 (Insufisiensi atau Gagal Ginjal Progresif)
GFR menurun dengan cepat (-1 ml/bulan),ginjal kehilangan fungsinya setiap bulan hingga 3 % (Price dan Wilson, 2006).
E. Hiperkalemia
Ketidakseimbangan kalium (K+) merupakan salah satu gangguan serius yang dapat terjadi pada gagal ginjal,karena kehidupan hanya dapat berjalan dalam rentang kadar kalium plasma yang sempit sekali ( normal = 3,5-5,5 mEq/L). Sekitar 90% asupan normal yaitu sebesar 50-150mEq/hari diekskresikan dalam urin. Salah satu komplikasi yang paling serius pada penderita uremia adalah hiperkalemia. Bila K+ serum mencapai kadar sekitar 7 mEq/L, dapat terjadi disritmia yang serius dan juga henti jantung. Selain itu, hiperkalemia makin diperberat lagi oleh hipokalsemia, hiponatremia, dan asidosis. Karena alasan ini, jantung penderita harus dipantau terus untuk mendeteksi efek hiperkalemia (dan efek semua ion lain) terhadap konduksi jantung.
Hiperkalemia akut dapat diobati dengan pemberian glukosa dan insulin intravena yang akan memasukkan K+ ke dalam sel, atau dengan pemberian kalsium glukonat 10% intravena dengan hati-hati sementara EKG penderita terus diawasi akan kemungkinan timbulnya hipotensi disertai pelebaran kompleks QRS.Efek dari tindakan ini hanya bersifat sementara dan hiperkalemia harus dikoreksi dengan dialisis. Bila kadar K+ tidak dapat diturunkan dengan dialysis,maka dapat digunakan resin penukar kation natrium polistiren sulfonat (Kayexalate). Setiap gram dari resin akan mengikat satu mEq K+. Kayexalate dapat diberikan melalui mulut atau dengan dimaksukkan melalui rektal. Untuk mempermudah pertukaran K+, tambahkan 25 sampai 30 ml sorbitol 70% (suatu alkohol osmotik aktif yang sukar diabsorpsi dan mempunyai efek laksatif) (Price dan Wilson, 2006).

Praktikum Farmakoterapi Gangguan Ginjal
1. Subjektif
a. Data pasien :
• Nama : Tn. S
• Umur : 45 th
• MRS : 10 Desember 2006
b. Keluhan :
- ± satu bulan terakhir pasien sering mengalami mual sehinggga pasien hanya makan beberapa sendok perhari.
- Malam sebelum MRS pasien muntah – muntah ± 10 x hingga lemas.
- Saat ini pasien tidak mual hanya nyeri perut.
c. Riwayat penyakit : Hipertensi terkontrol
Diabetes Melitus terkontrol dengan Glikuidon
d. Riwayat pengobatan : Glikuidon
e. Riwayat sosial : MASKIN/JPS
f. Riwayat alergi : -
g. Kepatuhan : patuh minum obat
h. Riwayat merokok : -
i. Riwayat alkohol : -
j. Riwayat obat tradisional : -

2. Objektif
Data Klinik
Data Klinik Nilai Normal Tgl 10 Desember 2006 Keterangan
Tekanan darah 128/80 mmHg 200/100 ↑
Nadi 80x/menit 88 ↑
RR 20x/menit 24 ↑
Suhu 36-37º C -
Mual - ++
Muntah - -
Lemas - ++

Data Laboratorium
Data Laboratorium Nilai Normal Tanggal Keterangan
10/12/2006 sore
Leukosit 4.5 – 10.5 x 103/uL 8.1 - Normal
Sel darah merah 4-6 x 103/uL 3.24 - ↓
Hb 11-18 g/dL 9.4 - ↓
GDA 70-110 mg/dL 206 139 ↑
SGOT <38 U/l 30 - Normal
SGPT <41 U/l 20 - Normal
BUN 5-23 mg/dL 62 - ↑
Serum Creatinin <1.2 9.3 ↑
Albumin 3.8-4.4 g/dL 3.4 ↓
Bilirubin Total - 1.2
Bilirubin Direct - 0.2
Na 136-144 meq/L 148 137.8 ↑ lalu normal
Kalium 3.8-5 meq/L 5.84 5.45 ↑
Ca 83-104 mg/dL 118 ↑
Clorida 97-103 mmol/L 118.2 114 ↑
Phospat 2-5 mg/dL - -

Urinalisis
Urinalisis Nilai Normal Tanggal (2006)
11/12 12/12
Makroskopis
Warna Kuning Kuning Kuning
Kejernihan Jernih Jernih Jernih
Analisa kimia
Berat jenis 1.1010-1.025 1.015 -
pH 6.5-8.0 6.5 -
Leukosit Negatif Neg -
Nitrit Negatif Neg -
Protein Negatif +3 -
Glukosa Negatif +1 -
Keton Negatif Neg -
Urobilinogen Negatif +2 -
Bilirubin Negatif Neg -
Eritrosit Negatif Neg -
Mikroskopis
Leukosit 1 – 2/LPB - 1 – 2
Eritrosit 1 – 2/LPB - 0 – 1
Ephitel 1 – 2/LPB - 0 – 1
Kristal Negatif -
Silinder Negatif -
Lain-lain Negatif -

3. Assesment
CKD stage V, Hipertensi stage II (JNC VII) dan Hiperkalemia
- CKD stage V dilihat dari kenaikan SC (9.3), kenaikan BUN (62 mg/dL), penurunan albumin (3.4 g/dL), Urinalisis: +3, Klirens Kreatinin 7.8 ml/menit.
- HT stage II dilihat dari kenaikan tekanan darah (200/100 mmHg), Kons. Kardio: Ht stage II karena CKD stage V.
- Hiperkalemia dilihat dari kenaikan K (5.8 meq/L), EKG: Gel. T Tall

4. Plan
a. Tujuan terapi :
 Meningkatkan kondisi dan keadaan fungsional ginjal
 Menurunkan tekanan darah sampai batas normal dan mempertahankannya.
 Mengembalikan keseimbangan cairan dan garam
 Menurunkan kadar gula dalam darah hingga batas normal dan mempertahankannya.
 Memperbaiki status gizi.

b. Sasaran terapi :
 Ginjal
 Tekanan darah
 Cairan elektrolit
 Guka darah
 Status gizi

Berdasarkan algoritma penatalaksanaan terapi menurut Dipiro, 1993 (dengan terjemahan golongan 3) :

c. Terapi Non Farmakologi :
1. Mengurangi makanan yang mengandung garam
2. Banyak minum air putih
3. Hemodialisis 3x per minggu
4. Diet sodium (Na)
5. Diet makanan
6. Berolahraga yang cukup

d. Terapi Farmakologi
• Alternatif Obat (Nama Obat, Mekanisme Kerja, Indikasi, Dosis, KI, ESO, Interaksi Obat) :
1. Captopril
• Nama Obat: Acendril
• Mekanisme kerja: secara kompetitif menghambat enzim pengubah angiotensin I, mencegah perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II, vasokontriktor kuat yang juga menstimulasi sekresi aldosteron. Menghasilkan penurunan tekanan darah, retensi potasium, dan pengurangan reabsorbsi sodium.
• Indikasi: untuk perawatan hipertensi, pasien gagal jantung kongestif yang tidak merespon atau tidak terkontrol oleh terapi konvensional, disfungsi ventrikel kiri setelah MI, diabetes neuropati. Unlabeled uses: perawatan krisis hipertensi, hipertensi pada bayi dan anak – anak, rheumatoid arthritis, diagnosis anatomic renal artery stenosis dan aldosteronism primer, perawatan hipertensi yang berhubungan dengan krisis skleroderma ginjal dan penyakit takayasu, edema idiopatik, sindrom Bartter's and Raynaud's, disfungsi ventrikel kiri asimptomatis setelah MI.
• Dosis: Dosis Inisial: PO 25 mg 2 – 3 x sehari, kemudian secara bertahap ditingkatkan selama 1 – 2 minggu jika efek yang diinginkan tidak tercapai. Dosis umum: 25 – 150 mg 2 – 3 x sehari. Dosis umum tidak melebihi 50 mg 3 x sehari. Dosis maksimal perhari 450 mg.
• KI: Hipersensitivitas pada obat – obat ACE Inhibitor.
• ESO: Kardiovaskular (CV): nyeri dada, palpitasi, takikardia, hipotensi ortostatik. Sistem Saraf Pusat (SSP): sakit kepala, gangguan tidur, parestesias, pusing, lelah, malaise. Dermatologi: ruam, pruritus, alopecia. Mata dan THT: rinitis. Gastrointestinal (GI): Nausea, nyeri perut, vomiting, iritasi lambung, aphthous ulcers, peptik ulser, penyakit kuning (jaundice), cholestasis, diare, dysgeusia, anoreksia, konstipasi, mulut kering. Genitourinary (GU): Oligoria, proteinuria. Hepatik: kenaikan enzim hati dan serum bilirubin. Hematologik: Neutropenia, agranulositosis, trombositopenia, pansitopenia. Metabolik: hiperkalemia, hiponatremia, kenaikan asam urin dan glukosa darah. Respiratori: batuk kering kronis, dispnea, eosinophilic pneumonitis. Lainnya: ginekomastia, myasthenia.
• Interaksi Obat: Alopurinol: dapat meningkatkan resiko hipersensitivitas. Antasid: dapat menurunkan bioavailabilitas captopril. Digoksin: meningkatkan level digoksin. Makanan: Pengurangan bioavailabilitas captopril. Indometasin: dapat mengurangi efek hipotensi, terutama pasa renin rendah atau pasien hipertensi yang bergantung pada volume. Litium: meningkatkan level litium dan dapat terjadi gejala toksisitas litium. Phenothiazine: dapat meningkatkan efek captopril. Preparat potasium, diuretik hemat potasium: dapat meningkatkan level serum potasium. Probenecid: meningkatkan level captopril dalam darah dan menurunkan klirens total.
(Tatro, 2003)

2. Furosemid
• Nama Obat: Afrosic
• Mekanisme Kerja: menghambat reabsorpsi sodium dan klorida pada tubulus proksimal, distal dan lengkung henle.
• Indikasi: perawatan edema yang berkaitan dengan gagal hati kongestif, sirosis hati, dan penyakit ginjal, hipertensi.
• Dosis: PO: 2 – 2,5 g/hari. IV: 2 – 2,5 g/hari. Dosis maksimum IV bolus 1 g/hari lebih dari 30 menit.
• KI: Hipersensitivitas pada sulfonilurea, anuria.
• ESO: CV: hipotensi orostatik, tromboplebitis, aortitis kronik. SSP: vertigo, sakit kepala, pusing, paresthesia, gelisah, demam. Dermatologi: fotosensitivitas, urtikaria, pruritus, necrotizing angiitis, exfoliative dermatitis, erythema multiforme, ruam, iritasi lokal dan nyeri. Mata dan THT: penglihatan kabur, xanthopsia (penglihatan menguning), tinnitus, gangguan pendengaran. GI: anoreksia, nausea, vomiting, diare, iritasi lambung dan oral, keram, konstipasi, pankreatitis. GU: kekejangan kandung kemih, nefritis intersisial, glikosuria. Hematologik: anemia, leukopenia, purpura, anemia aplastik, trombositopenia, agranulositosis. Hati: jaundice, ischemic hepatitis. Metabolik: hiperurisemia, hiperglisemia, hipokalemia, alkalosis metabolik. Lainnya: kejang otot, lemas.
• Interaksi Obat: Aminoglikosida: dapat meningkatkan toksisitas pada pendengaran. Arang: dapat menurunkan absorpsi furosemid. Cisplatin: dapat menyebabkan ototoksisitas tambahan. Digitalis glikosida: gangguan elektrolit. Litium: dapat meningkatkan level litium plasma dan toksisitas. NSAID: dapat mengurangi efek furosemid. Fenitoin: dapat mengurangi efek diuretik furosemid. Salisilat: dapat merusak respon diuretik pada pasien dengan sirosis dan ascites. Diuretik tiazis: efek sinergis, dapat menyebabkan diuresis dan abnormalitas elektrolit serius. Inkompatibilitas: gentamisin, milrinone atau netilmicin pada dekstrosa 5 % dalam air atau saline normal: tidak menambah larutan furosemid, terbentuk endapan. Larutan asam kuat, pH < 5,5: tidak tercampur dengan larutan furosemid.
(Tatro, 2003)
3. Glikuidon
• Nama Obat: Fordiab
• Mekanisme Kerja: menurunkan glukosa dalam darah dengan menstimulasi pelepasan insulin dari sel β pancreas dan meningkatkan sensitivitas jaringan perifer terhadap insulin. Glikuidon berikatan reseptor channel kalium sensitive ATP pada permukaan sel pancreas, menurunkan konduktansi potassium dan menyebabkan depolarisasi membrane. Membrane yang terdepolarisasi menstimulasi influks ion kalsium melewati channel kalsium sensitive tegangan. Peningkatan konsentrasi ion kalsium intraseluler menginduksi sekresi insulin.
• Indikasi: digunakan untuk perawatan diabetes mellitus tipe 2.
• Dosis: 15 mg sekali sehari pada waktu makan pagi, maksimal 2 x sehari 30 mg saat makan
• KI : Diabetes tergantung insulin (diabetes mellitus tipe 1). Koma, prekoma diabetes dan ketidakseimbangan metabolik yang ekstrim dengan tendensi ke keadaan asidosis. Jangan digunakan pada pasien diabetes yang terkomplikasi dengan asidosis atau ketosis, maupun pada kondisi stress of surgery atau infeksi akut. Gliquidone tidak boleh digunakan pada masa kehamilan atau masa menyusui, pada pasien dengan gagal fungsi hati atau ginjal yang berat dan porfiria.
• ESO: hipoglikemia, ruam kulit, anemia hemolitik, gangguan GI, dan kolestasis.
• Interaksi Obat: Efek barbiturat, vasopresin dan antikoagulan oral dapat dipotensiasi dengan pemberian gliquidone. Obat-obat yang dapat menggeser gliquidone dari ikatan protein, sementara waktu dapat mempertinggi kadar obat bentuk bebas dan menyebabkan hipoglikemia. Olah raga, alkohol, dan beberapa obat (seperti; salisilat, sulfonamida, fenilbutazon, obat-obat tuberkulostatik, kloramfenikol, golongan tetrasiklin, turunan kumarin, siklofosfamid, penghambat MAO, dan obat-obat penghambat β-adrenergik), mikonazol, kotrimoksazol, sulfinpirazon, dapat meningkatkan efek penurunan glukosa darah dari obat antidiabetik oral golongan sulfonilurea. Kontrasepsi oral, klorpromazin, obat-obat simpatomimetik, kortikosteroid, hormon tiroid, dan produk-produk yang mengandung asam nikotinat yang diberikan pada saat bersamaan dapat mengurangi efek penurunan glukosa darah dari golongan sulfonilurea.
(Anonim, 2009)

4. Enalapril
• Nama Obat: renacardon
• Mekanisme Kerja: secara kompetitif menghambat enzim pengubah angiotensin I, mencegah perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II, vasokonstriktor kuat. Konsekuensi klinis termasuk penurunan sodium dan retensi cairan, penurunan TD, dan peningkatan dieresis.
• Indikasi: perawatan pada hipertensi dan gejala gagal jantung kongestif dalam kombinasi dengan diuretic dan digitalis disfungsi ventrikel kiri asmptomatis setelah MI (Myocardial Infarction). Unlabeled use: perawatan diabetes neuropati, hipertensi pada anak – anak dan hipertensi yang berhubungan dengan scleroderma renal crisis.
• Dosis: dosis inisial PO: 2,5 – 5 mg/hari. Dosis pemeliharaan umum: 10 – 40 mg/hari dalam dosis tunggal atau berganda.
• KI: standar pertimbangan.
• ESO: CV: nyeri dada, myocardial infarction, hipotensi, angina, hipotensi ortostatik, takikardia, syncope, vaskulitis. SSP: sakit kepala, vertigo, pusing, lelah, asthenia. Dermatologi: ruam, fotosensitivitas. GI: nausea, nyeri perut, vomiting, diare, infeksi saluran kemih.hematologi: penurunan hemoglobin dan hematokrit, neutropenia, agranulositosis, trombositopenia, pancytopenia, eosinophilia. Metabolic: hiperkalemia. Respiratori: bronchitis, batuk terus – menerus, dyspnea. Lainnya: demam, myalgia, arthalgia, arthritis.
• Interaksi Obat: Alopurinol: dapat meningkatkan resiko hipersensitivitas. Antasid: dapat menurunkan bioavailabilitas enalapril. Digoksin: peningkatan level digoksin. Indometasin: efek hipotensi dapat dikurangi, terutama pada rennin rendah atau pasien hipertensi tergantung volume. Litium: meningkatkan level litium dan gejala toksisitas litium dapat terjadi. Fenotiazin: dapat meningkatan efek farmakologik fenotiazin. Preparat potassium dan diuretik hemat potasium: dapat meningkatkan level serum potasium. Rifampin: efek farmakologi enalapril dapat menurun.
(Tatro, 2003)
5. Parenteral Nutrition: Martose
• Nama Obat: Martos 10 Injection Otsuka
• Mekanisme Kerja:
• Indikasi: mensuplai penambahan air dan karbohidrat sebelum dan sesudah operasi pada pasien DM atau dalam keadaan stress.
• Dosis: 500 – 1000 ml secara IV lambat, kecepatan infuse: 0,3 gr/kg BB/jam.
• KI: hipersensitivitas pada maltose
• ESO: gatal – gatal pada kulit

• Evaluasi obat terpilih (nama obat, sediaan, alasan pemilihan, regimen dosis: frekuensi dan durasi).
1. Enalapril
1. Nama obat: renacardon
2. Sediaan: tablet
3. Alasan pemilihan: enalapril mempunyai efek menurunkan proteinuri.
4. Regimen dosis: dosis inisial PO: 2,5 – 5 mg/hari. Dosis pemeliharaan umum: 10 – 40 mg/hari dalam dosis tunggal atau berganda.
2. Furosemid
• Nama obat: Afrosic
• Sediaan: tablet
• Alasan pemilihan: efek samping kuat hampir sama dengan tiazid, kecuali bahwa diuretic kuat menimbulkan hiperkalsiura dan menurunkan kalsium darah, sedangkan tiazid menimbulkan hipokalsiura dan menigkatkan kadar kalsium darah.
• Regimen dosis: PO: 2 – 2,5 g/hari. IV: 2 – 2,5 g/hari. Dosis maksimum IV bolus 1 g/hari lebih dari 30 menit.
3. Parenteral nutrition: Maltose
• Nama obat: Martos 10 Injection Otsuka
• Sediaan: Infus
• Alasan pemilihan: maltose digunakan untuk meningkatkan nutrisi pasien. Maltose dapat secara bermakna menurunkan gula darah. Maltosa memiliki indeks glikemik yang rendah. Hal ini menggambarkan penyerapan maltose yang lambat oleh tubuh di dalam sistem pencernaan, dengan demikian maltose tidak menyebebkan kenaikan kadar gula darah yang mendadak sehingga maltose sesuai untuk dikonsumsi orang yang berpenyakit diabetes maupun yang menjalani diet rendah karbohidrat.
• Regimen dosis: 500 – 1000 ml secara IV lambat, kecepatan infuse: 0,3 gr/kg BB/jam.

e. Komunikasi Informasi dan Edukasi
- Monitoring dan Evaluasi
1. Pemeriksaan laboratorium secara berkala yang meliputi data klinik, data laboratorium, dan urinalisis.
2. Diharapkan pasien rajin kontrol untuk memonitor terapi.
3. Monitoring dapat dilakukan dengan memperhatikan kondisi pasien:
a. Optimalisasi dan pertahankan keseimbangan cairan dan garam
b. Kontrol hipertensi
c. Kontrol keseimbangan elektrolit
4. Diet tinggi kalori dan rendah protein, pembatasan garam dan makanan berlemak.
5. Mengawasi dengan ketat kemungkinan adanya komplikasi.

- Informasi
Cara penggunaan obat
1. Enalapril: dosis inisial PO: 2,5 – 5 mg/hari. Dosis pemeliharaan umum: 10 – 40 mg/hari dalam dosis tunggal atau berganda.
2. Furosemid: PO: 2 – 2,5 g/hari. IV: 2 – 2,5 g/hari. Dosis maksimum IV bolus 1 g/hari lebih dari 30 menit.
3. Parenteral nutrition: 500 – 1000 ml secara IV lambat, kecepatan infuse: 0,3 gr/kg BB/jam.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Gliqiudone. http://www.drugbank.ca/drugs/DB01251. Diakses tanggal 28 November 2009.
Dipiro, et . al. (Ed.). 2000. Pharmacoterapy A Patopysiologic Approach. New York: Mc-Graw Hill.
Tatro, D. S. 2003. A to Z Drug Facts. San Francisco: Facts and Comparisons.
Budianto, Anang. 2005. Guidance to Anatomy II. Surakarta : Keluarga Besar Asisten Anatomi FKUNS.
Corwin, Elizabeth J. 2000. Buku Saku Patofsiologi. Jakarta : EGC.
Guyton and Hall. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9. Jakarta : EGC
Price dan Wilson. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Ed: Ke-6. Jakarta: EGC.

Comments (2) »

hidup tu ada matinya…
kadang sya lupa akan hal itu…

Leave a comment »

Tugas Kuliah (Emulsi dan Suspensi)

EMULSI

 

A. Pengertian

Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau cairan obat terdispersi dalam cairan pembawa distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok.

Emulsi adalah suatu sistem heterogen yang tidak stabil secara termodinamika, yang terdiri dari paling sedikit dua fase cairan yang tidak bercampur, dimana salah satunya terdispersi dalam cairan lainnya dalam bentuk tetesan–tetesan kecil, yang berukuran 0,1-100 mm, yang distabilkan dengan emulgator/surfaktan yang cocok.

      Emulsi berasal dari kata emulgeo yang ertinya menyerupai milk, warna emulsi adalah putih. Pada abad XVII hanya dikenal emulsi dari biji-bijian yang mengandung lemak, protein dan air. Emulsi semacam ini disebut emulsi vera atau emulsi alam, sebagai emulgator dipakai protein yang terdapat dalam bij tersebut.

      Pada pertengahana abad XVIII, ahli farmasi perancis memperkenalkan pembuatan emulsi dari oleum olivarum, oleum anisi dan eugenol oil dengan menggunakan penambahan gom arab, tragacanth dan kuning telur. Emulsi yang terbentuk karena penambahan emulgator dari luar disebut emulsi spuria atau emulsi buatan.

B. Komponen Emulsi

Kom                              komponen dari Emulsi dapat digolongkan menjadi 2 macam yaitu :

v     Komponen Dasar

Adalah bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat didalam emulsi, biasanya terdiri dari :

1. Fase dispers / fase internal / fase diskontinyu

Yaitu zat cair yang terbagi-bagi menjadi butiran kecil kedalam zat cair lain.

2. Fase kontinyu / fase eksternal / fase luar

Yaitu zat cair dalam emulsi yang berfungsi sebagai bahan dasar (pendukung) dari emulsi tersebut.

3. Emulgator

Adalah bagian Berupa zat yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi.

v     Komponen Tambahan

Bahan tambahan yang sering ditambahkan pada emulsi untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Misalnya corrigen saporis,odoris, colouris, preservatif (pengawet), antoksidant.

Preservatif yang digunakan antara lain metil dan propil paraben, asam benzoat, asam sorbat, fenol, kresol, dan klorbutanol, benzalkonium klorida, fenil merkuri asetat, dll.

Antioksidant yang digunakan antara lain asam askorbat, L.tocoperol, asam sitrat, propil gallat dan asam gallat.

C. Tipe Emulsi

Berdasarkan macam zat cair yang berfungsi sebagai fase internal ataupun eksternal, maka emulsi digolongkan menjadi dua macam yaitu :

1. Emulsi tipe O/W (oil in water) atau M/A (minyak dalam air).

Adalah emulsi yang terdiri dari butiran minyak yang tersebar kedalam air. Minyak sebagai fase internal dan air fase eksternal.

2. Emulsi tipe W/O (water in oil) atau A/M (air dalam minak).

Adalah emulsi yang terdiri dari butiran air yang tersebar kedalam minyak. Air sebagai fase internal sedangkan fase minyak sebagai fase eksternal.

D. Tujuan Pemakaian Emulsi

Emulsi dibuat untuk diperoleh suatu preparat yang stabil dan rata dari campuran dua cairan yang saling tidak bisa bercampur.

Tujuan pemakaian emulsi adalah :

1. Dipergunakan sebagai obat dalam / peroal. Umumnya emulsi tipe O/W.

2. Dipergunakan sebagai obat luar. Bisa tipe O/W maupun W/O tergantung banyak faktor misalnya sifat zat atau jenis efek terapi yang dikehendaki.

 

E. Teori Terjadinya Emulsi

Untuk mengetahui proses terbentuknya emulsi dikenal 4 macam teori, yang melihat proses terjadinya emulsi dari sudut pandang yang berbeda-beda. Teoi tersebut ialah :

1. Teori Tegangan Permukaan (Surface Tension)

Molekul memiliki daya tarik menarik antara molekul yang sejenis yang disebut dengan daya kohesi. Selain itu molekul juga memiliki daya tarik menarik antara molekul yang tidak sejenis yang disebut dengan daya adhesi.

Daya kohesi suatu zat selalu sama, sehingga pada permukaan suatu zat cair akan terjadi perbedaan tegangan karena tidak adanya keseimbangan daya kohesi. Tegangan yang terjadi pada permukaan tersebut dinamakan tegangan permukaan.

Dengan cara yang sama dapat dijelaskan terjadinya perbedaan tegangan bidang batas dua cairan yang tidak dapat bercampur. Tegangan yang terjadi antara dua cairan tersebut dinamakan tegangan bidang batas.

Semakin tinggi perbedaan tegangan yang terjadi pada bidang mengakibatkan antara kedua zat cair itu semakin susah untuk bercampur. Tegangan yang terjadi pada air akan bertambah dengan penambahan garam-garam anorganik atau senyawa-senyawa elektrolit, tetapi akan berkurang dengan penambahan senyawa organik tetentu antara lain sabun.

Didalam teori ini dikatakan bahwa penambahan emulgator akan menurunkan dan menghilangkan tegangan permukaan yang terjadi pada bidang batas sehingga antara kedua zat cair tersebut akan mudah bercampur.

2. Teori Orientasi Bentuk Baji (Oriented Wedge)

Setiap molekul emulgator dibagi menjadi dua kelompok yakni :

  • Kelompok hidrofilik, yakni bagian dari emulgator yang suka pada air.
  • Kelompok lipofilik, yakni bagian yang suka pada minyak.

3. Teori Interparsial Film

Teori ini mengatakan bahwa emulgator akan diserap pada batas antara air dan minyak, sehingga terbentuk lapisan film yang akan membungkus partikel fase dispers.

Dengan terbungkusnya partikel tersebut maka usaha antara partikel yang sejenis untuk bergabung menjadi terhalang. Dengan kata lain fase dispers menjadi stabil. Untuk memberikan stabilitas maksimum pada emulsi, syarat emulgator yang dipakai adalah :

  • Dapat membentuk lapisan film yang kuat tapi lunak.
  • Jumlahnya cukup untuk menutup semua permukaan partikel fase dispers.
  • Dapat membentuk lapisan film dengan cepat dan dapat menutup semua permukaan partikel dengan segera.

4. Teori Electric Double Layer (lapisan listrik ganda)

Jika minyak terdispersi kedalam air, satu lapis air yang langsung berhubungan dengan permukaan minyak akan bermuatan sejenis, sedangkan lapisan berikutnya akan bermuatan yang berlawanan dengan lapisan didepannya. Dengan demikian seolah-olah tiap partikel minyak dilindungi oleh dua benteng lapisan listrik yang saling berlawanan. Benteng tersebut akan menolak setiap usaha dari partikel minyak yang akan menggandakan penggabungan menjadi satu molekul besar. Karena susunan listrik yang menyelubungisesama partikel akan tolak menolak dan stabilitas emulsi akan bertambah. Terjadinya muatan listrik disebabkan oleh salah satu dari ketiga cara dibawah ini.

  • Terjadinya ionisasi dari molekul pada permukaan partikel.
  • Terjadinya absorpsi ion oleh partikel dari cairan disekitarnya.
  • Terjadinya gesekan partikel dengan cairan disekitarnya.

F. Bahan Pengemulsi (Emulgator)

  • Emulgator alam

Yaitu Emulgator yang diperoleh dari alam tanpa proses yang rumit. Dapat digolongkan menjadi tiga golongan :

1. Emulgator alam dari tumbuh-tumbuhan

Bahan-bahan karbohidrat , bahan-bahan alami seperti akasia (gom), tragakan, agar, kondrus dan pectin. Bahan-bahan ini membentuk koloid hidrofilik bila ditambahkan kedalam air dan umumnya menghasilkan emulsi m/a.

a. Gom arab

Sangat baik untuk emulgator tipe O/W dan untuk obat minum. Kestabilan emulsi yang dibuat dengan gom arab berdasarkan 2 faktor yaitu :

- Kerja gom sebagai koloid pelindung

- Terbentuknya cairan yang cukup kental sehingga laju pengendapan cukup kecil sedangkan masa mudah dituang (tiksotropi).

- Lemak-lemak padat : PGA sama banyak dengan lemak padat.

- Minyak atsiri : PGA sama banyak dengan minyak atsiri.

- Minyak lemak : PGA ½ kali berat minyak.

- Minyak lemak + minyak atsiri + Zat padat larut dalam minyak lemak.

- Bahan obat cair BJ tinggi seperti cloroform dan bromoform.

- Balsam-balsam.

- Oleum lecoris aseli

b. Tragacanth

c. Agar-agar

d. Chondrus

e. Emulgator lain

Pektin, metil selulosa, CMC 1-2 %.

2. Emulgator alam dari hewan

Zat-zat protein seperti : gelatin, kuning telur, kasein, dan adeps lanae. Bahan-bahan ini menghasilkan emulsi tipe m/a. kerugian gelatin sebagai suatu zat pengemulsi adalah sediaan menjadi terlalu cair dan menjadi lebih cair pada pendiaman.

3. Emulgator alam dari tanah mineral

Zat padat yang terbagi halus, seperti : tanah liat koloid termasuk bentonit, magnesium hidroksida dan aluminium hidroksida. Umumnya membentuk emulsi tipe m/a bila bahan padat ditambahkan ke fase air jika jumlah volume air lebih besar dari minyak. Jika serbuk bahan padat ditambahkan dalam inyak dan volume fase minyak lebih banyak dari air, suatu zat seperti bentonit sanggup membentuk suatu emulsi a/m. Selain itu juga terdapat Veegum / Magnesium Aluminium Silikat

  • Emulgator buatan

1. Sabun

2. Tween 20; 40; 60; 80

3. Span 20; 40; 80

G. Cara Pembuatan Emulsi

Dikenal 3 metode dalam pembuatan emulsi yaitu :

1.Metode gom kering

Disebut pula metode continental dan metode 4;2;1. Emulsi dibuat dengan jumlah komposisi minyak dengan ½ jumlah volume air dan ¼ jumlah emulgator. Sehingga diperoleh perbandingan 4 bagian minyak, 2 bagian air dan 1 bagian emulgator.

Pertama-tama gom didispersikan kedalam minyak, lalu ditambahkan air sekaligus dan diaduk /digerus dengan cepat dan searah hingga terbentuk korpus emulsi.

2.Metode gom basah

Disebut pula sebagai metode Inggris, cocok untuk penyiapan emulsi dengan musilago atau melarutkan gum sebagai emulgator, dan menggunakan perbandingan 4;2;1 sama seperti metode gom kering. Metode ini dipilih jika emulgator yang digunakan harus dilarutkan/didispersikan terlebuh dahulu kedalam air misalnya metilselulosa. 1 bagian gom ditambahkan 2 bagian air lalu diaduk, dan minyak ditambahkan sedikit demi sedikit sambil terus diaduk dengan cepat.

3.Metode botol

Disebut pula metode Forbes. Metode inii digunakan untuk emulsi dari bahan-bahan menguap dan minyak-minyak dengan kekentalan yang rendah. Metode ini merrupakan variasi dari metode gom kering atau metode gom basah. Emulsi terutama dibuat dengan pengocokan kuat dan kemudian diencerkan dengan fase luar.

Dalam botol kering, emulgator yang digunakan ¼ dari jumlah minyak. Ditambahkan dua bagian air lalu dikocok kuat-kuat, suatu volume air yang sama banyak dengan minyak ditambahkan sedikit demi sedikit sambil terus dikocok, setelah emulsi utama terbentuk, dapat diencerkan dengan air sampai volume yang tepat.

4.Metode Penyabunan In Situ

a. Sabun Kalsium

Emulsi a/m yang terdiri dari campuran minyak sayur dan air jeruk,yang dibuat dengan sederhana yaitu mencampurkan minyak dan air dalam jumlah yang sama dan dikocok kuat-kuat. Bahan pengemulsi, terutama kalsium oleat, dibentuk secara in situ disiapkan dari minyak sayur alami yang mengandung asam lemak bebas.

b. Sabun Lunak

Metode ini, basis di larutkan dalam fase air dan asam lemak dalam fase minyak. Jika perlu, maka bahan dapat dilelehkan, komponen tersebut dapat dipisahkan dalam dua gelas beker dan dipanaskan hingga meleleh, jika kedua fase telah mencapai temperature yang sama, maka fase eksternal ditambahkan kedalam fase internal dengan pengadukan.

c. Pengemulsi Sintetik

Beberapa pustaka memasukkannya dalam kategori metode tambahan.

Secara umum, metode ini sama dengan metode penyabunan in situ dengan menggunakan sabun lunak dengan perbedaan bahwa bahan pengemulsi ditambahkan pada fase dimana ia dapat lebih melarut. Dengan perbandingan untuk emulsifier 2-5%. Emulsifikasi tidak terjadi secepat metode penyabunan. Beberapa tipe peralatan mekanik biasanya dibutuhkan, seperti hand homogenizer .

Alat yang digunakan dalam pembuatan emulsi, untuk pembuatan emulsi yang baik.

  1. Mortar dan stamper
  2. Botol
  3. Mixer, blender
  4. Homogenizer
  5. Colloid mill

H. Cara Membedakan Tipe Emulsi

  • Test Pengenceran Tetesan

Metode ini berdasarkan prinsip bahwa suatu emulsi akan bercampur dengan yang menjadi fase luarnya. Misalnya suatu emulsi tipe m/a, maka emulsi ini akan mudah diencerkan dengan penabahan air. Begitu pula sebaliknya dengan tipe a/m.

  • Test Kelarutan Pewarna

Metode ini berdasarkan prinsip keseragaman disperse pewarna dalam emulsi , jika pewarna larut dalam fase luar dari emulsi. Misalnya amaranth, adalah pewarna yang larut air, maka akan terdispersi seragam pada emulsi tipe m/a. Sudan III, adalah pewarna yang larut minyak, maka akan terdispersi seragam pada emulsi tipe a/m.

  • Test Creaming (Arah Pembentukan Krim)

Creaming adalah proses sedimentasi dari tetesan-tetesan terdispersi berdasarkan densitas dari fase internal dan fase eksternal. Jika densitas relative dari kedua fase diketahui, pembentukan arah krim dari fase dispers dapat menunjukkan tipe emulsi yang ada. Pada sebagian besar system farmasetik, densitas fase minyak atau lemak kurang dibandingkan fase air; sehingga, jika terjadi krim pada bagian atas, maka emulsi tersebut adalah tipe m/a, jika emulsi krim terjadi pada bagian bawah, maka emulsi tersebut merupakan tipe a/m.

  • Test Konduktivitas Elektrik

Metode ini berdasarkan prinsip bahwa air atau larutan berair mampu menghantarkan listrik, dan minyak tidak dapat menghantarkan listrik. Jika suatu elektroda diletakkan pada suatu system emulsi, konduktivitas elektrik tampak, maka emulsi tersebut tipe m/a, dan begitu pula sebaliknya pada emulsi tipe a/m.

  • Test Fluorosensi

Sangat banyak minyak yang dapat berfluorosensi jika terpapar sinar ultra violet. Jika setetes emulsi di uji dibawah paparan sinar ultra violet dan diamati dibawah mikroskop menunjukkan seluruh daerah berfluorosensi maka tipe emulsi itu adalah a/m, jika emulsi tipe m/a, maka fluorosensi hanya berupa noda.

I. Kestabilan Emulsi

Emulsi dikatakan tidak stabil bila mengalami hal-hal seperti dibawah ini :

1. Creaming yaitu terpisahnya emulsi menjadi dua lapisan, dimana yang satu mengandung fase dispers lebih banyak daripada lapisan yang lain. Creaming bersifat reversibel artinya bila dikocok perlahan-lahan akan terdispersi kembali.

2. Koalesen dan cracking (breaking) yaitu pecahnya emulsi karena film yang meliputi partikel rusak dan butir minyak akan koalesen (menyatu). Sifatnya irreversibel (tidak bisa diperbaiki). Hal ini dapat terjadi karena:

  • Peristiwa kimia, seperti penambahan alkohol, perubahan PH, penambahan CaO / CaCL2
  • Peristiwa fisika, seperti pemanasan, penyaringan, pendinginan dan pengadukan.
  • Inversi yaitu peristiwa berubahnya sekonyong-konyong tipe emulsi W/O menjadi O/W atau sebaliknya dan sifatnya irreversible.

Viskositas emulsi dipengaruhi oleh perubahan komposisi :

1.Adanya hubungan linear antara viskositas emulsi dan viskositas fase kontinu.

2.Makin besar volume fase dalam, makin besar pula viskositas nyatanya.

 

3. Untuk mengatur viskositas emulsi, tiga factor interaksi yang harus dipertimbangkan oleh pembuat formula, yaitu :

  • Viskositas emulsi m/a dan a/m dapat ditingkatkan dengan mengurangi ukuran partikel fase terdispersi ,
  • Kestabilan emulsi ditingkatkan denganpengurangan ukuran partikel, dan
    • Flokulasi atau penggumpalan, yang cenderung membentuk fase dalam yang dapat meningkatkan efek penstabil, walaupun ia meningkatkan viskositas.

4. Biasanya viskositas emulsi meningkat dengan meningkatnya umur sediaan tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SUSPENSI

 

 

 

A. Pengertian

Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair. Suspensi terdiri dari beberapa jenis yaitu :

  1. Suspensi Oral adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair dengan bahan pengaroma yang sesuai dan ditujukkan untuk penggunaan oral.
  2. Suspensi Topikal adalah sediaan cair mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair yang ditujukkan untuk penggunaan pada kulit.
  3. Suspensi Optalmik adalah sediaan cair steril yang mengandung partikel-partikel yang terdispersi dalam cairan pembawa yang ditujukkan untuk penggunaan pada mata.
  4. Suspensi tetes telinga adalah sediaan cair yang mengandung partikel-partikel halus yang ditujukkan untuk diteteskan pada telinga bagian luar.
  5. Suspensi untuk injeksi adalah sediaan berupa suspensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak disuntikan secara intravena atau kedalam saluran spinal.
  6. Suspensi untuk injeksi terkontinyu adalah sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai untuk membentuk larutan yang memenuhi semua persyaratan untuk suspensi steril setelah penambahan bahan pembawa yang sesuai.

B. Stabilitas Suspensi

Salah satu problem yang dihadapi dalam proses pembuatan suspensi adalah cara memperlambat penimbunan partikel serta menjaga homogenitas dari pertikel. Cara tersebut merupakan salah satu tindakan untuk menjaga stabilitas suspensi. Beberapa faktor yang mempengaruhi stabiltas suspensi adalah :

1.Ukuran Partikel

Ukuran partikel erat hubungannya dengan luas penampang partikel tersebut serta daya tekan keatas dari cairan suspensi itu. Hubungan antara ukuran partikel merupakan perbandingan terbalik dengan luas penampangnya. Sedangkan antar luas penampang dengan daya tekan keatas merupakan hubungan linier. Artinya semakin besar ukuran partikel maka semakin kecil luas penampangnya.

2.Kekentalan / Viskositas

Kekentalan suatu cairan mempengaruhi pula kecepatan aliran dari cairan tersebut, makin kental suatu cairan kecepatan alirannya makin turun (kecil). Hal ini dapat dibuktikan dengan hukum ” STOKES”

 

 

Ket :

V = Kecepatan Aliran                                                      

d = Diameter Dari Partikel

p = Berat Jenis Dari Partikel

p0 = Berat Jenis Cairan

g = Gravitasi

ŋ = Viskositas Cairan

3.Jumlah Partikel / Konsentrasi

Apabila didalam suatu ruangan berisi partikel dalam jumlah besar, maka partikel tersebut akan susah melakukan gerakan yang bebas karena sering terjadi benturan antara partikel tersebut.

Benturan itu akan menyebabkan terbentuknya endapan dari zat tersebut, oleh karena itu makin besar konsentrasi partikel, makin besar kemungkinan terjadinya endapan partikel dalam waktu yang singkat.

4.Sifat / Muatan Partikel

Dalam suatu suspensi kemungkinan besar terdiri dari beberapa macam campuran bahan yang sifatnya tidak terlalu sama. Dengan demikian ada kemungkinan terjadi interaksi antar bahan tersebut yang menghasilkan bahan yang sukar larut dalam cairan tersebut. Karena sifat bahan tersebut sudah merupakan sifat alami, maka kita tidak dapat mempengruhi.

Ukuran partikel dapat diperkecil dengan menggunakan pertolongan mixer, homogeniser, colloid mill dan mortir. Sedangkan viskositas fase eksternal dapat dinaikkan dengan penambahan zat pengental yang dapat larut kedalam cairan tersebut. Bahan-bahan pengental ini sering disebut sebagai suspending agent (bahan pensuspensi), umumnya besifat mudah berkembang dalam air (hidrokoloid).

Bahan pensuspensi atau suspending agent dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu :

1. Bahan pensuspensi dari alam.

Bahan pensuspensi dari alam yang biasanya digunakan adalah jenis gom / hidrokoloid. Gom dapat larut atau mengembang atau mengikat air sehingga campuran tersebut membentuk mucilago atau lendir. Dengan terbentuknya mucilago maka viskositas cairan tersebut bertambah dan akan menambah stabilitas suspensi. Kekentalan mucilago sangat dipengaruhi oleh panas, PH, dan proses fermentasi bakteri.

a. Termasuk golongan gom :

Contonya : Acasia ( Pulvis gummi arabici), Chondrus, Tragacanth , Algin

b. Golongan bukan gom :

Contohnya : Bentonit, Hectorit dan Veegum.

2. Bahan pensuspensi sintesis

a. Derivat Selulosa

b.Golongan organk polimer

C. Cara Mengerjakan Obat Dalam Suspensi

1. Metode pembuatan suspensi :

Suspensi dapat dibuat dengan cara :

  • Metode Dispersi
  • Metode Precipitasi

2. Sistem pembentukan suspensi :

  • Sistem flokulasi
  • Sistem deflokulasi

Secara umum sifat-sifat dari partikel flokulasi dan deflokulasi adalah :

      a. Deflokulasi

  • Partikel suspensi dalam keadaan terpisah satu dengan yang lain.
    • Sedimentasi yang terjadi lambat masing-masing patikel mengendap terpisah dan ukuran partikel adalah minimal.
  • Sediaan terbentuk lambat.
    • Diakhir sedimen akan membentuk cake yang keras dan sukar terdispersi lagi.

b.Flokulasi

  • Partikel merupakan agregat yang basa
  • Sedimentasi terjadi begitu cepat
    • Sedimen tidak membentuk cake yang keras dan padat dan mudah terdispersi kembali seperti semula.

D.Formulasi suspensi

Membuat suspensi stabil secara fisis ada 2 kategori :

  • Pada penggunaan ”Structured Vehicle” untuk menjaga partikel deflokulasi dalam suspensi Structured Vehicle, adalah larutan hidrokoloid seperti tilose, gom, bentonit, dan lain-lain.
  • Penggunaan prinsip-prinsip flokulasi untuk membentuk flok, meskipun terjadi cepat pengendapan, tetapi dengan pengocokan ringan mudah disuspensikan kembali.

Pembuatan suspensi sistem flokulasi ialah :

1. Partikel diberi zat pembasah dan dispersi medium.

2. Lalu ditambah zat pemflokulasi, biasanya berupa larutan elektrolit, surfaktan atau polimer.

3. Diperoleh suspensi flokulasi sebagai produk akhir.

4. Apabila dikehendaki agar flok yang terjadi tidak cepat mengendap, maka ditambah Structured Vehicle.

5. Produk akhir yang diperoleh ialah suspensi flokulasi dalam Structured Vehicle.

E.Penilaian Stabilitas Suspensi

1. Volume sedimentasi

Adalah Suatu rasio dari volume sedimentasi akhir (Vu) terhadap volume mula mula dari suspensi (Vo) sebelum mengendap.

 

 

2. Derajat flokulasi.

Adalah Suatu rasio volume sedimentasi akhir dari suspensi flokulasi (Vu) terhadap volume sedimentasi akhir suspensi deflokulasi (Voc).

 

3.Metode reologi

Berhubungan dengan faktor sedimentasi dan redispersibilitas, membantu menemukan perilaku pengendapan, mengatur vehicle dan susunan partikel untuk tujuan perbandingan.

4.Perubahan ukuran partikel

Digunakan cara Freeze-thaw cycling yaitu temperatur diturunkan sampai titik beku, lalu dinaikkan sampai mencair kembali. Dengan cara ini dapat dilihat pertumbuhan kristal, yang pokok menjaga tidak terjadi perubahan ukuran partikel dan sifat kristal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

REFERENSI

 

Anief. Moh. 2000. Farmasetika. Gajah Mada University Press : Yogyakarta

Lahman. L, dkk.1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Edisi III.

UI Press : Jakarta

Soetopo. Seno, dkk. 2001. Teori Ilmu Resep. Jakarta

http://rgmaisyah.wordpress.com/2008/12/03/emulsi/

http://medicafarma.blogspot.com/2008/08/suspensi_28.html

Comments (4) »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.